• 24

    Sep

    ATAS NAMA CINTA PERTAMA

    arak-arakan awan jingga terusir angin tenggara lalu minggat ke kaki langit saat gerai legam rambutmu melentingkan mentari ke balik bukit rembang petang justru memanggang bayangmu hingga semakin matang langkahkupun tersandung kerikil tajam diujung pematang dilumpur yang mulai mengering sehelai pita lila tampak kian lapuk panggilan tugasnya sebagai pembalut luka telah usai, diapun rela sirna sebagai pupuk rumput dandang gula telah menggantikan keanggunannya dengan menebar aroma harum mengundang tetes embun apabila nafas malam semakin ranum lantaran kemarau berkepanjangan dan lumpur telah menjelma debu pematang tidak lagi memikul beban iring-iringan duka bocah berwajah lesu lembahpun sepi dari pekik elang dan lenguh lembu di sudut-sudut dusun terpencil untungnya masih terdengar gem
    Read More
  • 17

    Sep

    PERMATA KATA

    luruh airmata membeku lalu menjelma kristal permata kata pelipur duka cita bagi mereka yang terlunta-lunta dan nista adakah kita bisa membaca ketika cuaca ceria berubah menjadi gelap gulita? Tidak ada nyala pelita, tidak ada cahaya bulan purnama jelita sementara sukma resah gelisah meronta-ronta mendamba cinta, kalbupun rindu hendak menggapai cita malam-malam kelam begitu saja lewat tanpa senandung gita, karena kematian mulai menabuh genta pewaris-pewaris derita berkerumun bermandikan embun seusai pesta, permadani merahpun dikotori guntingan pita langkahku terbata-bata lantaran lantai tidak lagi rata seiring tubuh yang mulai renta dan sirnanya gema seuntai soneta permata katapun lebur jadi debu tajam menyayat mata, bergumpal di jari kaki primata dan semua yang melata
    Read More
  • 26

    Apr

    LOST LOVE

    Duhai batu granit berhati selembut awan gemawan dilangit izinkan aku membasuh wajahku dengan gemericik air perigi yang menyembur dari buah dadamu agar larut debu bintang pada kental keringat petualanganku yang sia-sia dan jiwaku yang terhimpit, yang terasa teramat sempit, serta merta menjadi lega bagai hamparan langit dimana temaram kasihmu bersemayam suci dari angkara murka, iri, dengki, benci dan dendam Wahai sungai-sungai yang sudah terlanjur dangkal, padahal kau tak pernah meminum airmu sendiri, jadi semua ini adalah perbuatan tidak senonoh orang-orang bodoh yang mengaku pintar yang melakukan pengrusakan dihulu lantas pesta pora dimuara dan mejejalkan sisa-sisanya kedalam mulutmu tentu saja kau meradang dan memuntahkan banjir bandang tak perduli keceriaan anak bermain jon
    Read More
  • 1

    Nov

    Kidung Megatruh Kagem Ki Surakso Hargo (Mbah Marijan)

    Lir selo kencono sinangling dening gurindo suminar mangambar ambar ing tepis wiring argo dahono jejer siro mangadeg jejeg, tan polah ora obah dening gebyaring tatit opo maneh hamung swarane sato kewan pating jlerit Dumadi jalmo prasojo kang pinilih dadi jogoboyoning giriloko mangadep praptaning beboyo kanti wani pindo satrio pinandito roso kecing jroning kalbu pijer digeguyu ora sudi tinggal glanggang colong playu Senajan yuswo siro kadyo srengenge wayah sore hananging tetep sregep lan prigel ing gawe tan keno ginodo kedeping netro wewe ngawe-awe abot utowo enteng disunggi ono pundake dewe Jaragan wis dadi kersaning Sang Hiang Murbeng Dumadi siro tinakdir praloyo dening geni pinuju sujud semedi mugo-mugo keno kanggo pepeling wayah putu ing tembe mburi kareben biso mangayu bagyo hayun
    Read More
  • 17

    Oct

    Soneta Buat Marita.

    kendati hendak kau selimuti semesta dengan kabut sutra ungu tetapi bisakah kau sembunyikan gejolak dendam rindu dalam kalbu? bukankah aku sudah berjanji sejak semula aku baru mau memetik dari tangkainya bila telah tercium semerbak harum bunga seroja? demi sebiru-birunya laut dan ombak yang menderu-deru dipantainya dan pekik camar yang menukik dari balik mega-mega izinkan aku membuang sauh dan menambatkan perahu di dermaga kabarkan pula kepada butir-butir pasir sepanjang pesisir bahwa sudah tiba waktunya buat berdzikir yang ditengarai oleh tasbih puting beliung, hujan dan petir serta deras derai air mata terdera getar geletarnya bibir demi gugus-gugus rumah karang dan seluruh penghuninya katakan padaku dimana kau simpan kenangan indah masa remaja? saat mabuk ciuman pertama
    Read More
  • 30

    Sep

    Madah Anak Gembala.

    rindu sendumu atas jernihnya laut tanpa noda telah digubah menjadi madah oleh anak gembala tengok ternak yang minggat berduyun duyun lantaran padang rumput berubah jadi gurun lengking serulingnya tidak lagi menggetarkan reranting pohon kelor sebab bukit dan tebing mendadak longsor lecut cemetinya tidak lagi bergema di sisi-sisi lembah tapi malah mengiris-iris luka yang semakin parah sebab pohon-pohon pinus telah ditebang sampai ke akar-akarnya untuk mengganjal gejolak perut yang tidak kunjung reda lagu syahdu kisah cintamu kini tinggal kenangan pilu anak gembala bertambah dewasa disepanjang jalan berdebu sepak terjangnya beringas, hawa nafsunya mengebu gebu kegemarannya mabuk dan tawuran layaknya anak durhaka yang lahir ke dunia karena perselingkuhan dan zina hasrat mesramu
    Read More
  • 17

    Sep

    Makna Sepatah Kata.

    Mestinya aku bersikap lunak kepada huruf-huruf tanpa arti ini Agar dia mau duduk manis dan tersusunlah kata sepanjang baris giginya yang rapi Agar dia mau menyimak dongeng-dongeng pengantar mimpi Mestinya aku tersenyum ramah dan beruluk salam: selamat pagi Dan kepada kata-kata aku harus menerima apa adanya Sebab selalu saja ada yang salah dan tidak pernah mendekati sempurna Tetapi semua itu harus kuterima dengan senang hati Sebagai sesuatu yang pantas kumiliki Lalu kepada untaian kalimat-kalimat sarat hikmat Menjadi kewajibanku selalu menaruh hormat Karena dari denyut jantungnya semangat ragaku terpacu Karena seiring desah napasnya jiwaku bertasbih khusu Oleh karena kalimat hikmat adalah nubuat syah alam Adalah tugasku menjaganya siang dan malam Kujadikan cermin benggala buat berkaca
    Read More
  • 16

    Sep

    Haru Biru Kasihku

    Kepada birunya laut yang semburat dari bola matamu Terkembang layar pinisi haru biru kasihku Kepada jingganya awan yang bearak-arak diatas cakrawala bibirmu Berlabuh kecup dendam rinduku menghirup setetes madu Kepada hijaunya bukit- bukit yang menjulang didadamu Kulabuhkan hasrat kesumba anak gembala bercaping bambu Atas nama anak bajang yang membendung angin dengan seutas benang Atas nama bocah cebol yang hendak meraih bintang gemintang Kubacakan sajak-sajak burung kepodang pemakan belalang Kudendangkan syair syair cingcorang yang mengaku dirinya elang Demi cinta bertepuk sebelah tangan Demi kasih sayang tak berbalas Kutiup seruling setiap senja dilembah ngarai nan sunyi Lengkingnya nyaring menabrak tebing- tebing sanubari Dan daun-daun keringpun satu persatu luruh kebumi Karena
    Read More
  • 27

    Mar

    Ballada Berhala Purba

    seperti embun yang perlahan-lahan pudar digerus semburat fajar demikianlah usia mudaku berlalu menerobos onak duri semak belukar dulu teman-temanku adalah kupu-kupu biru dan lebah madu kini sahabat karibku tinggal ulat bulu dan berudu banyak kenangan indah yang telah berubah jadi seonggok sampah lantaran puja-puji menjelma sumpah serapah lahanku bukan lagi kebanggaan dalam hal mampu memberi melainkan cuma mengolah kebijaksanaan guna membimbing diri-sendiri tanda tanya sudah kehilangan harga dan terjungkir tanpa makna digusur tanda seru yang setiap waktu datang mendera angin telah mengabaikan pesan rinduku pada anak cucu saat aku menyeret langkah, tebing dan lereng malah termangu-mangu resah dan gelisahku berubah jadi lembah pengasingan tangis sukmaku luruh sebagai titik-t
    Read More
  • 20

    Mar

    Mengukur Kedalaman Palung Cinta

    apakah bisa kuduga kedalaman hati seorang bidadari kalau hanya dengan sekedar mencium pipi? tidakkah bujuk rayu lelaki bermata sayu cuma dianggap angin lalu? lantas apa kias bagi pelangi di sudut kerling matanya? barangkali tidak lebih dari bias fatamorgana apakah bisa kukira kemana arah panah asmara dengan menebak jalan cerita sutradara? sedang panggung sandiwara seluas tujuh samodra dan sosok bayangnya hanya muncul di rona lembayung sutera tidakkah aroma harum diruang-ruang pesta telah bersaksi bahwa dalam kisah kasih abadi bidadari adalah maharani titahnya dijunjung tinggi, sabdanya mengundang puja-puji lelaki, yang oleh nafsunya sendiri dadanya hangus terpanggang hanya bisa tertunduk dan lunglai melenggang bagai biduk bocor yang oleng dihempas gelombang lalu jatuh terlentang dengan ta
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post