SADAR DIRI ADALAH SUPER POSISI

28 Sep 2013

Antara aku sebagai pencipta tapi diciptakan dengan DIA yang Maha Menciptakan dan Tidak Diciptakan, seberapapun dekat melekat, tetap saja dibatasi oleh jarak pemisah dan eksistensi pembeda. Lantas aku harus memposisikan eksistensi diriku secara optimal di dimensi mana, pada ring yang keberapa? Jika di alam semesta makro yang nyaris tanpa batas ini aku belum memperoleh jawaban yang memuaskan ataupun mendapat pencerahan yang menerangi kesadaran sepenuhnya, apakah aku harus menyelam lebih dalam lagi ke alam mikro yang hanya berisi cairan esensi sampai aku larut dan hablur dikekentalannya? Apakah dengan demikian aku dapat mencapai tataran berjarak nol dengan DIA? Siapa dapat menjamin? Betapapun aku begitu ingin. Tetapi betapapun panjang terulur tali kendali ambisiku untuk manunggal, tetap saja ada jarak sedepa, sehasta atau sejengkal. Posisiku, bahkan super posisiku mentok disatu moment absurd dan pasrah diharibaan tirai yang populer dengan sebutan getar dawai. Jika aku bejo(beruntung), aku tergabung dalam simphoni agung orkestra alam semesta yang riuh rendah. Walau disisi yang lain aku mewakili isak tangis penderitaan semua makhluk yang melata. Selendang tipis harapku terbentang diantara tawa dan tangis. di malam yang beku menjelma lidah kabut yang menjulur dari puncak gunung, menggagahi permukaan telaga sunyi dengan pekik ngeri atas bayang-bayang kematian.

Maka, jika aku tetap bersikukuh menuruti rasa rinduku, rasa-rasanya akan segera meleleh jiwaku berikut sekujur cinta yang meliputinya. Ini artinya apa? Kalah dalam kekecewaan lantaran bertepuk sebelah tangan. Kesiaa-siaan yang dilanjuti dengan kehinaan. Dengan segenap kerendahana hati, dengan seluruh pengertian yang kumiliki, aku memilih surut selangkah atau dua langkah, atau bila perlu mengambil langkah seribu. Demi apa? Bukan soal sumpah atau janji apalagi harga diri. Ini hanya semata-mata masalah sadar diri bahwa sesungguhnya aku berada pada posisi yang tidak rendah, tidak pula tinggi, tidak jauh, pun tidak dekat. Itulah SUPER POSISIKU. Momentum yang harus terjaga keseimbangannya ataupun kesinambungannya. Itulah duniaku yang sejati. Aku bebas bergerak menari dan bernyanyi atau diam bersemedi menekuni meditasi. Atau bahkan tidak melakukan apapun juga tanpa merasa berdosa. Yang jelas, aku ainul yakin bahwa keberadaanku adalah bagian yang cukup pantas dari MahakaryaNYA. Aku hanyalah KehendakNYA. Jika DIA ADA DIMANA-MANA dan KUASANYA MELIPUTI SEGALA SESUATU, maka jalan hidup yang paling utama adalah tunduk dan taat kepadaNYA alias TAQWA. lEBIH DARI SERIBU JALAN TAQWA, SEMUA MENUJU KE SATU ARAH….

530006c77dd92cc6ce4eecc16168a0b2_golden-boy


TAGS


-

Author

Search

Recent Post