SENYUM MONALISA

19 Sep 2009

1c6edffcddb4bd4d6f8dbdb1ed1a1345_si-pemalu

Guru spiritualku, M.Jibril, sepanjang pengetahuanku adalah sosok pribadi yang unik sekali. Bagiku dia itu ikon kemerdekaan sekaligus kecerdasan. Setiap saat dia tampil apa adanya, tapi serunya, selalu bersinergi positip dengan alam sekitarnya. Suatu hari, ketika langit makin mendung dan bumi makin panas, kuikuti jejak langkahnya yang ringan, bahkan seolah olah terbang. Dadaku sesak, napasku tersengal sengal, tapi justru hal itu membuatnya tertawa terpingkal pingkal. Dia bilang padaku sekiranya sudah tak mampu tersenyum lagi, sebaiknya aku mengundurkan diri belajar iqro.

Enak saja, sanggah batinku. Dan benar saja, lihatlah dia malah mengumbar senyum lebar kepada halilintar yang ganas menyambar nyambar. Prahara diajak tertawa. Punting beliung dianggap senandung. Tapi baiklah, tak segampang itu aku menyerah meski lidahku kaku melafal huruf qolqolah. Jangan bersedih mendengar angkasa bertasbih, tak perlu murung walau langit makin mendung, ikuti saja iramanya, bersuka rialah, berriang gembiralah dan yang tak kalah penting: tersenyumlah. Anjuran utama beliau sebelum aku diizinkan menimba ilmunya sederhana banget:senyum.

Ingat lirik lagu apa yang tersembunyi dibalik senyum manismu? Setelah sekian lama aku berguru kepada begitu banyak guru pula, guru yang satu inilah yang mampu membuka mulutku yang lama terkunci oleh dusta, kemunafikan, caci maki dan sumpah serapah. Corong bobrok berkarat ini harus direndam dalam larutan asam kehidupan sampai medok. Dikikir, digrenda, diamplas, didempul, dicat, dipoles, tak ubahnya mobil angkot masuk bengkel ketok magic. Dengan berbagai cara, dan seringkali terasa sangat menyakitkan, beliau tanpa pernah merasa bosan membujukku untuk latihan tersenyum secara benar.

Ada apa denganmu Bapak Guru? Timbang belajar senyum saja heboh banget. Mau maunya repot! Tujuan utamaku studi di pesantren ini kan membaca tulisan tanpa papan. Bukan latihan akting iklan pasta gigi murahan. Tapi baiklah, nggak baik seuzon dengan beliau yang barokah. Proses belajar memang banyak batu sandungan dan kerikil tajamnya. Itulah sebabnya didinding kamarku tergantung potret Monalisa, pakar senyum yang diabadikan Leonardo Da Vinci. Apakah senyum jenis ini yang mampu menaklukan dunia? Bukan! Tidak cocok dengan karakterku juga belum tentu menggugah selera Guruku.

Aku mau jadi diriku sendiri. Aku mau belajar senyum pada bayi bayi yang baru lahir, bukan menyunting sungging senyum Monalisa atau nenek sihir. Sebab senyum jabang bayi itu fitri, tulus ikhlas. Mundur kemasa laluku selagi masih dalam buaian ibu, tiba tiba senyum dibibirku merekah. Mukzizat hebatpun terjadi. Lidahku yang kelu mendadak fasih melafal huruf qolqolah. Mantabb!

Dengan lemah lembut M. Jibril, Sang Guru Sejati membimbing lenganku untuk mengambil sebuah buku tua yang tersimpan dipojok perpustakaan hidup yang sunyi senyap. Ketika perintah iqro menggelegar diserambi jantungku, tubuhku menggigil gemetar. Halaman pertama buku pelajaran baru yang kudambakan terbuka, dan perintah iqropun menggema kesegenap penjuru dunia.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post