KEAJAIBAN DOA.
“Ya Allah lindungilah aku dari mara bahaya dan bencana dalam perjalananku ke kampung halaman”. Itulah doa singkatku seusai sholat Tahajud dinihari menjelang perjalanku pulang kampung menghantar anak bungsuku untuk berlibur selama sepekan. Kendaraan sudah diservise, sepertinya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Bahkan aku lebih merisaukan kemampuanku untuk berkendara menempuh jarak 500 kilometer, karena usia senjaku telah mencapai 62 tahun, jarak pandangku menyusut, reaksiku melambat dan mudah diserang rasa lelah.
Bertepatan dengan terbitnya sang mentari diufuk timur, tentu saja tidak lupa terlebih dahulu mengucapkan Bismilahirohmannirohim, perjalananpun dimulai dengan hati bak bunga musim semi, menikmati segarnya udara pagi, terangsang oleh hasrat mampir ke restoran kuliner favorit di jam makan siang nanti, aku merasa seperti anak muda berumur 26 tahun. Segar bugar, sehat walafiat layaknya si jago rally Rifat Sungkar. Aku bersiul-siul dan sibungsupun bekomentar: “Ayah gilanya kumat dah!”
Ternyata pulang kampung pada musim liburan panjang anak sekolah tidak ubahnya perjalanan mudik lebaran. Kemacetan tak bisa dihindari. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 9 jam, sekarang memakan waktu 13 jam. Beruntungnya, aku sanggup menempuhnya tanpa keluhan apapun mengenai staminaku. kecuali pinggang rada pegel. Dengan mengucap puji sukur kepada Allah, aku sampai dihalaman “rumah pusaka” almarhum almarhumah ayah bundaku, tempat aku lahir, tumbuh dan dewasa. Sibungsu bengong keheranan menyaksikan rumah kakek neneknya yang lebih bagus ketimbang rumah ayahnya. Dia tidak percaya bahwa kamar dimana dia tidur sekarang, pada zaman ayahnya remaja adalah kandang sapi. Ketika kutunjukkan sabit pembabat rumput milikku, dia bilang omong kosong.
Hari-hari berikutnya diisi dengan kunjungan ketempat wisata Candi Borobudur, Waduk Sempor, Benteng Van der Wijk, Pantai Teluk Penyu, Gua Jati Jajar, Batu Raden dan lain-lain. Hari terasa begitu cepat berlalu, sepekan seperti cuma sehari. Tapi dampak positifnya dari berlibur ketempat-tempat berpemandangan indah dan berudara segar memang mantap. Terjadi revitalisasi total baik fisik maupun mental. Polutan kehidupan metropolitan terbilas tuntas, napas bebas lepas. Denyut nadi terasa lebih rapi. Sayangnya kami harus segera kembali ke Jakarta Kawah Candradimuka.
Dalam perjalanan kembali ke Jakarta inilah bibit bencana mulai tumbuh. Lantaran terlalu asyik meluncur di jalan mulus, dimana sebelumnya melewati jalan rusak, aku tidak menyadari bahwa didepan sana, jarak lebih kurang seratus meter, telah menunggu jalan rusak parah. Dengan kecepatan 100 kilometer perjam, mobil terhempas kejalan rusak dengan semena-mena. Karena terguncang dahsyat, sistim komputer menjadi error, lampu dan wiper hidup sendiri, sedangkan mesin mati. Lagi-lagi beruntungnya, sistem kembali normal. Mesin mati karena clam casing air flow lepas. Perjalanan masih bisa berlanjut terus, berkelok-kelok di Malangbong, menanjak terjal di Nagrek, lantas masuk jalan tol Cileunyi, melintasi KM97 Cipularang yang terkenal itu, dan sukur Alhamdulillah berakhir dihalaman rumah dengan tak kurang suatu apa, sehat sentosa.
Catatan ringan perjalanan ini adalah hal yang biasa-biasa saja. Yang luar biasa, bahkan ajaib adalah bagaimana Allah mendengar doaku sekaligus mengabulkannya. Tanpa kusadari, ternyata akibat dari kecelakaan yang pertama memicu kemungkinan terjadinya kecelakaan berikutnya yang lebih parah bahkan fatal. Dalam kasus mobilku adalah kerusakan suspensi yaitu kedua pegas (per) roda depan patah. Patahan pegas tersebut bagaikan mata pisau bubut yang menggerus kedua roda depan. Cuma anehnya, ban masih kuat bertahan sampai parkir digarasi setelah menempuh jarak 300 KM terhitung dari terjadinya kecelakaan awal. Bulu kudukku merinding membayangkan semisal ban itu meledak di jalan tol Cipularang KM 97 dalam kecepatan 100 KM perjam, apakah aku dan Sibungsu yang manja masih sempat menghirup udara awal tahun 20012?Walahualam.
Allah menunjukkan keagunganNya pada pagi berikutnya. Ketika aku mau berangkat ke rumah anakku yang tinggal di Rempoa, Baru saja roda bergulir, terdengar suara mencurigakan dibagian roda depan. Semula dikira paku yang menancap. Tapi tiba-tiba bannya kempes. Setelah dibuka ban, dampak dari kecelakaan pertama tampak dengan jelas, pegas patah, dan karena guncangan di jalan rusak, patahan pegas sempat menghadap kearah roda dan langsung menyayatnya. Sekiranya benih bencana itu sempat tertabur di jalan raya, betapa mengerikan!
Perjalanan liburan telah usai. Diawali dengan doa permohonan perlindungan dan diakhiri dengan puji sukur karena masih diberi keselamatan dan perlindungan dari bencana dan mara bahaya. Pelajaran yang bisa dipetik adalah pastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan, mengendara dalam stamina prima, dan yang paling penting, sebelumnya berdoa memohon perlindunganNya, semoga seberat apapun perjalanan yang hendak kita tempuh akan berakhir selamat. Didalam doa tersimpan keajaiban.



menabur dibumi nan subur, agar anak cucu kita hidup makmur dan dengan hikmat mengucap puji sukur…..





