Human Being Imagination

Lingkungan, sospolbud, psychologi

KEAJAIBAN DOA.

“Ya Allah lindungilah aku dari mara bahaya dan bencana dalam perjalananku ke kampung halaman”. Itulah doa singkatku seusai sholat Tahajud dinihari menjelang perjalanku pulang kampung menghantar anak bungsuku untuk berlibur selama sepekan. Kendaraan sudah diservise, sepertinya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Bahkan aku lebih merisaukan kemampuanku untuk berkendara menempuh jarak 500 kilometer, karena usia senjaku telah mencapai 62 tahun, jarak pandangku menyusut, reaksiku melambat dan mudah diserang rasa lelah.

Bertepatan dengan terbitnya sang mentari diufuk timur, tentu saja tidak lupa terlebih dahulu mengucapkan Bismilahirohmannirohim, perjalananpun dimulai dengan hati bak bunga musim semi, menikmati segarnya udara pagi, terangsang oleh hasrat mampir ke restoran kuliner favorit di jam makan siang nanti, aku merasa seperti anak muda berumur 26 tahun. Segar bugar, sehat walafiat layaknya si jago rally Rifat Sungkar. Aku bersiul-siul dan sibungsupun bekomentar: “Ayah gilanya kumat dah!”

Ternyata pulang kampung pada musim liburan panjang anak sekolah tidak ubahnya perjalanan mudik lebaran. Kemacetan tak bisa dihindari. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 9 jam, sekarang memakan waktu 13 jam. Beruntungnya, aku sanggup menempuhnya tanpa keluhan apapun mengenai staminaku. kecuali pinggang rada pegel. Dengan mengucap puji sukur kepada Allah, aku sampai dihalaman “rumah pusaka” almarhum almarhumah ayah bundaku, tempat aku lahir, tumbuh dan dewasa. Sibungsu bengong keheranan menyaksikan rumah kakek neneknya yang lebih bagus ketimbang rumah ayahnya. Dia tidak percaya bahwa kamar dimana dia tidur sekarang, pada zaman ayahnya remaja adalah kandang sapi. Ketika kutunjukkan sabit pembabat rumput milikku, dia bilang omong kosong.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kunjungan ketempat wisata Candi Borobudur, Waduk Sempor, Benteng Van der Wijk, Pantai Teluk Penyu, Gua Jati Jajar, Batu Raden dan lain-lain. Hari terasa begitu cepat berlalu, sepekan seperti cuma sehari. Tapi dampak positifnya dari berlibur ketempat-tempat berpemandangan indah dan berudara segar memang mantap. Terjadi revitalisasi total baik fisik maupun mental. Polutan kehidupan metropolitan terbilas tuntas, napas bebas lepas. Denyut nadi terasa lebih rapi. Sayangnya kami harus segera kembali ke Jakarta Kawah Candradimuka.

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta inilah bibit bencana mulai tumbuh.  Lantaran terlalu asyik meluncur di jalan mulus, dimana sebelumnya melewati jalan rusak, aku tidak menyadari bahwa didepan sana, jarak lebih kurang seratus meter, telah menunggu jalan rusak parah. Dengan kecepatan 100 kilometer perjam, mobil terhempas kejalan rusak dengan semena-mena. Karena terguncang dahsyat, sistim komputer menjadi error, lampu dan wiper hidup sendiri, sedangkan mesin mati. Lagi-lagi beruntungnya, sistem kembali normal. Mesin mati karena clam casing air flow lepas. Perjalanan masih bisa berlanjut terus, berkelok-kelok di Malangbong, menanjak terjal di Nagrek, lantas masuk jalan tol Cileunyi, melintasi KM97 Cipularang yang terkenal itu, dan sukur Alhamdulillah berakhir dihalaman rumah dengan tak kurang suatu apa, sehat sentosa.

Catatan ringan perjalanan ini adalah hal yang biasa-biasa saja. Yang luar biasa, bahkan ajaib adalah bagaimana Allah mendengar doaku sekaligus mengabulkannya. Tanpa kusadari, ternyata akibat dari kecelakaan yang pertama memicu kemungkinan terjadinya kecelakaan berikutnya yang lebih parah bahkan fatal. Dalam kasus mobilku adalah kerusakan suspensi yaitu kedua pegas (per) roda depan patah. Patahan pegas tersebut bagaikan mata pisau bubut yang menggerus kedua roda depan. Cuma anehnya, ban masih kuat bertahan sampai parkir digarasi setelah menempuh jarak 300 KM terhitung dari terjadinya kecelakaan awal. Bulu kudukku merinding membayangkan semisal ban itu meledak di jalan tol Cipularang KM 97 dalam kecepatan 100 KM perjam, apakah aku dan Sibungsu yang manja masih sempat menghirup udara awal tahun 20012?Walahualam.

Allah menunjukkan keagunganNya pada pagi berikutnya. Ketika aku mau berangkat ke rumah anakku yang tinggal di Rempoa, Baru saja roda bergulir, terdengar suara mencurigakan dibagian roda depan. Semula dikira paku yang menancap. Tapi tiba-tiba bannya kempes. Setelah dibuka ban, dampak dari kecelakaan pertama tampak dengan jelas, pegas patah, dan karena guncangan di jalan rusak, patahan pegas sempat menghadap kearah roda dan langsung menyayatnya. Sekiranya benih bencana itu sempat tertabur di jalan raya, betapa mengerikan!

Perjalanan liburan telah usai. Diawali dengan doa permohonan perlindungan dan diakhiri dengan puji sukur karena masih diberi keselamatan dan perlindungan dari bencana dan mara bahaya. Pelajaran yang bisa dipetik adalah pastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan, mengendara dalam stamina prima, dan yang paling penting, sebelumnya berdoa memohon perlindunganNya, semoga seberat apapun  perjalanan yang hendak kita tempuh akan berakhir selamat. Didalam doa tersimpan keajaiban.

cimg0175

Suatu Siang Di Taman Buah Mekar Sari

Dengan jarak lebih kurang 3 kilometer dari rumah, Taman Buah Mekar Sari ibarat halaman depan rumahku sendiri. Sejujurnya kunjunganku kesana semenjak dibangun sampai hari ini bisa dihitung dengan jari. Kalau tidak ada keperluan yang urgent dan penting, aku hanya hilir mudik  didepan pintu gerbangnya yang bernuansa Bali. Indah, megah, klasik bahkan terkesan sakral. Pepohonan yang sepuluh tahun lalu masih sebesar lengan anak Ethiopia, sekarang sudah membengkak sebesar perut buncit makelar proyek negara.

Tetapi bukan karena semua itu, siang ini aku mangkal di kawasan parkir kendaraan pengunjung Taman Buah Mekar Sari. Keberadaanku disini, yang kebetulan bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri hari yang kedua, walaupun rame-rame bareng anak cucu dan istri, tidak dalam rangka piknik atau darmawisata. Melainkan masih terkait dengan tugas pelayanan khusus, atau lebih jelasnya bisnis. Bisnis apa dihari lebaran saat mayoritas orang sibuk mudik dan nyebar duit? Bisnis cilik dengan tingkat profit yang menggelitik. Pelayanan makan siang karyawan musiman dengan harga spesial. Bayangkan, satu porsi nasi bok yang biasanya dihargai 10.000 rupiah, dihari lebaran dihargai 17.500 rupiah. Dengan pesanan 500 bok per hari selama seminggu, he he, mudik belakangan tidak jadi masalah dong? Naik mobil odong-odong, tapi isi kantong mantep gitu lho! Memang tidak boleh sembarangan menolak rejeki, kesempatan tidak datang dua kali. Insting bisnis istriku memang jeli, dan hebatnya dia bisa mengelola manejemen nepotisme dengan piawi. Suami, besan, menantu, anak, keponakan bahkan cucu direkrut tanpa pandang bulu.

Entah dari mana sumbernya, ujug-ujug, berkelebat bayangan Ibu Tien, tokoh ikon wanita sepanjang masa istriku. Senyum negarawati super itu begitu teduh dan keibuan. Sekarang terpapar di Taman Buah Mekar Sari yang sejuk dan rimbun ditumbuhi aneka macam buah-buahan. Kasih seorang Ibu Negara menjelma dalam wujud nyata dan ketulusan serta kelembutannya membuat siapa yang berteduh dibawah pohon beringin  perkasa matanya bakal berkaca-kaca mengenang  kecintaan beliau pada Tanah Air Bumi Nusantara yang gemah ripah lohjinawi dan rakyat Indonesia yang heroik. Taman Buah Mekar Sari adalah salah satu masterpiece gagasan atau bahkan karya beliau. Keberadaannya sangat dominan ditengah  pertumbuhan industri dan properti yang butuh paru-paru kota agar bisa bernafas lega.

Tanpa terasa matahari sudah berada diatas ubun-ubun. Namun karena hijau dan segarnya tanaman, ditambah lagi dengan meriahnya pengunjung dihari lebaran, Taman Buah Mekar Sari mulai sekarang bakal menjadi pesanggrahan yang mengesankan untuk melepas penat dan mengusir kejemuan. Dan khusus bagi kami sekeluarga besar, siang ini adalah hari yang super spesial, bisnis sekaligus piknik gratis. Inikah bonus kerja keras dan cerdas seorang Kartini sejati? Dan SMS yang mengabarkan bahwa transaksi sudah selesai disambut dengan pekik sorak kegembiraan dari semua anggota yang terlibat bisnis seratus persen halal ini. Begitu istriku muncul dihadapan kami, serbuan peluk ciumpun melanda bagaikan gelombang tsunami. Namun Dia begitu kokoh, sangat kuat. kenapa? Dia memang begitu adanya. Atau, karena dukungan uang kontan yang berjubel didalam tas klasiknya?

Tenggorokan yang mulai serak butuh pelumas dan es klapa muda sepertinya pas banget. Kamipun singgah ke warung diseberang jalan. Sebelumnya, ketika melewati pintu gerbang, ibunya anak-anak alias neneknya cucu-cucu tidak lupa menyampaikan salam tempel kepada petugas satpam yang sudah dapat dipastikan disambut dengan antusias, bahkan masih ditambah lagi dengan sikap hormat agak berlebihan. Sebagai drivernya “The A Team” ini, aku hanya tersenyum memahami maupun menyadari bahwa prinsip bagi-bagi rejeki dalam rimba bisnis itu penting, meskipun eksesnya dapat melenceng ke dalam budaya korupsi yang sarat dengan suap, sogok, gratifikasi, transfer muter-muter, uang kontan dalam kardus duren montong atau terbungkus kain kafan pocong. Yang aku tahu dengan pasti, istriku tabu untuk hal-hal semacam itu. Dan karenanya aku bangga.

mekar-sari-11

DIMANA TINJUMU?

Pelajaran yang bisa dipetik langsung dari para pelaku bom bunuh diri (Sang Pengantin) adalah bersikap berani. Sebaiknya sisihkan terlebih dulu plasmanya yang berbentuk dogma. Kita bisa mencangkok sikap berani mati dari mereka sebagai counter attack atas serbuan mereka yang gigih dan konsisten layaknya perjuangan berwawasan jihad. Terlalu naif bila kita terus menerus memposisikan diri sebagai korban. Seolah olah kita ini segerombolan domba yang hiruk pikuk mengembik setiap mendengar lolong serigala. Seakan-akan kita lemah lunglai tidak berdaya hanya karena ngeri mendengar ledakan petasan. Kita bisa dan harus lebih tegar ketimbang sikap nekat dan sesat mereka. Jika melulu soal bencana dan kematian, bukankah skala yang lebih spektakuler sudah menjadi lauk pendamping sejak sarapan pagi hingga makan malam? Kematian dan malapetaka adalah proses wajar, atau konsekwensi logis dari perkembangan hidup itu sendiri. Dengan semangat bushido kita semestinya tersenyum melihat polah tingkah anak muda yang berlaku konyol berjibaku demi tiket ke surga atau atas nama pejuang suci agama.

Tidak ada lagi yang perlu ditakuti dengan misi bom bunuh diri. Kita sudah sangat akrab dengan pola, motif dan modus operandinya. Bahkan kita kenal baik dengan kamulfase aktor intelektualnya. Kejahatan terorisme harus di tangkal dengan keberanian yang setimpal. Tentang tak-tik dan strateginya, dalam kurun waktu yang mencapai dasawarsaan kita telah menerapkannya sambil terus menerus disempurnakan. Masa iya kita mau dipecundangi oleh partisan. Maka, jika kita masih saja merasa takut, nyali kita ciut, itu pertanda kita kalah sebelum berperang. Katanya Garuda didadamu, lantas dimana tinjumu? (Ujar BK).

picture-026

MENABUR KEBAJIKAN.

Jika kamu kepergok aku disembarang tempat dan sembarang waktu lalu berinteraksi, siapa diantara kita yang terlebih dulu mengungkapkan kebajikan? Pada proses penjajakan biasanya kita saling menunggu. Sebelum jati diri,  maksud dan tujuan diungkapkan, sejenak kita terjerembab dalam situasi jeda yang kurang mengenakkan. Momentumnya biasanya singkat tapi kritis luar biasa. Situasi dan kondisinya tidak jelas, semua sikap serba gamang. Sampai akhirnya bisul meletus dan cangkang telur pecah. Krisispun berlalu tanpa menelan korban, suasana aman terkendali, hening dan sunyi.

Bukan masalah lagi jika unsur-unsur yang membangun kebaikan muncul secara bersamaan maupun beriringan. Sebab kebaikan memiliki hukum-hukum tersendiri dalam hal menempatkan diri. Tidak usah dituntun-tuntun, tidak perlu dipandu. Kebaikan itu independen, otonom dan mandiri. Jadi, jika aku dan kamu berkolbarasi atas nama kebaikan, segala sesuatunya dijamin berjalan dengan lancar. Hanya saja, karena kita sering salah paham dalam mengelola persekutuan positif, maka tidak jarang muncul kendala yang menyebabkan rumitnya proses penggalangan harmoni dan targetpun meleset. Banyak waktu dan tenaga yang tersia-sia hanya untuk berebut benar dan saling salah-menyalahkan.

Benih kebajikan bisa tumbuh dimana saja, dipuncak gunung, tebing terjal, dasar jurang maupun padang paling gersang. Jika kita berharap untuk memetik buahnya, konsekwensi logisnya adalah kita mesti rajin menyemai bijinya. Mari berlomba-lomba nebu-beemenabur dibumi nan subur, agar anak cucu kita hidup makmur dan dengan hikmat mengucap puji sukur…..

ETERNAL

my-silhuet

All things that are seen are transient, unreal. God alone is eternal, real. Attachment with objects ends in grief. God is your own Reality. That Reality, the God in you, has no relationship with the changing transitory objective world. He is Pure Consciousness only. Even if you posit some relationship for it, it can only be the type of relationship that exists between the dreamer and the objects seen and experienced in dreams.

Segala sesuatu yang terlihat di dunia ini bersifat sementara, yaitu tidak nyata. Hanya Tuhan-lah yang abadi, yang nyata. Keterikatan terhadap objek-objek duniawi berakhir dalam kesedihan. Tuhan adalah Realitas itu sendiri. Realitas tersebut adalah Tuhan yang bersemayam dalam dirimu, yang tidak memiliki hubungan dengan dunia yang selalu mengalami perubahan. Beliau adalah Kesadaran Murni. Bahkan jika engkau menempatkan beberapa hubungan untuk hal tersebut, hubungan itu hanya didapat dari jenis hubungan yang ada antara pemimpi dan objek yang dilihat dan dialami dalam mimpi.                          BABA


ATAS NAMA CINTA PERTAMA

arak-arakan awan jingga terusir angin tenggara lalu minggat ke kaki langit

saat  gerai legam rambutmu melentingkan mentari ke balik bukit

rembang petang justru memanggang bayangmu hingga semakin matang

langkahkupun tersandung kerikil tajam diujung pematang

dilumpur yang mulai mengering sehelai pita lila tampak kian lapuk

panggilan tugasnya sebagai pembalut luka telah usai, diapun rela sirna sebagai pupuk

rumput dandang gula telah menggantikan keanggunannya dengan menebar aroma harum

mengundang tetes embun apabila nafas malam  semakin ranum

lantaran kemarau berkepanjangan dan lumpur telah menjelma debu

pematang tidak lagi memikul beban iring-iringan duka bocah berwajah lesu

lembahpun sepi dari pekik elang dan lenguh lembu

di sudut-sudut dusun terpencil untungnya masih terdengar gema nyanyian

ada saja anak-anak yang bermain jonjang dan menari jamuran

ingin kuayunkan kakiku kesana, agar terusir kenangan pahit masa remaja

ketika kau tolak mentah-mentah cinta pertamaku yang begitu lugu

dan harapanku yang sia-sia muspra dihembus angin berdebu

iam-alone

MASA MUDA

masa-muda

There is a tendency among the youth to lead comfortable lives resting in air-conditioned chambers, avoiding manual labour, its stress and strain, sweat and dirt, without even one fold of their ironed clothes getting crumpled. This attitude is a far cry from the ideals of obedience and humility instilled by education. They should impart to the people around them in society the sacred ideas they have imbibed. They must spring like tiger cubs into the arena of the villages and cleanse them of all sorts of pollution. They must teach and train the illiterate residents of the villages to live decently and with dignity. They must strive along with the villagers and lead them forward. The youth of today should pose lofty ideals of life to the world through their exemplary lives.

Ada kecenderungan di kalangan pemuda saat ini untuk menjalani kehidupan yang nyaman beristirahat di ruang ber-AC, menghindari pekerjaan kasar (buruh), menghindari stres dan ketegangan, menghindari keringat dan kotoran, dan bahkan tidak menyukai pakaian yang kusut. Sikap ini sangat jauh dari sifat kerendahan hati yang telah ditanamkan pendidikan. Para pemuda seharusnya memberikan ide-ide suci yang telah mereka serap dari pendidikan kepada masyarakat di sekitar mereka. Mereka harus menyebar seperti anak harimau ke dalam arena desa-desa dan membersihkan mereka dari segala macam polusi. Mereka harus mengajar dan melatih penduduk yang buta huruf di desa-desa supaya mereka bisa hidup layak dan bermartabat. Mereka harus berjuang bersama dengan penduduk desa dan mengarahkan mereka untuk maju. Para pemuda saat ini harus menimbulkan cita-cita luhur kehidupan dunia melalui teladan hidup mereka…….

-BABA

PERI KECILKU

305859_1531058572150_1705320325_776986_1805793223_s1

Peri kecil itu adalah pengembara dari tepian alam semesta yang hampir-hampir mustahil dapat diukur jaraknya. Tetapi takdir telah menuntunnya untuk sampai dipangkuanku dalam wujud jabang bayi perempuan yang sehat segar montok. Puji sukur dia telah menjadi bagian dari anggota keluarga besarku yang memancarkan sinar gemerlap lewat bola matanya yang begitu bening, serta wewangian seharum kembang kopi saat helai rambut ikalnya dihembus angin senja. Dia dinamakan Divanita Nebula Maharani, pemberian nama oleh kedua orang tuanya, yang notabene adalah anakku dan istrinya. Dari namanya saja sudah tersirat bahwa peri mungil itu secara esensial terbentuk oleh debu bintang, sebagaimana planet, matahari dan milyaran bintang membentuk gugus-gugus galaksi di alam semesta ini.

Kehadirannya di muka bumi layaknya seorang Maharani pewaris tahta kerajaan kasih sayang yang disaksikan oleh gempa, letusan gunung berapi dan tsunami, suatu fenomena alam yang melumatkan fatamorgana dan menepis bianglala, serta menuntun tangan kemanusiaan agar mengulurkan pertolongan terhadap sesama yang tengah dilanda bencana. Peri kecil itu secara naluriah telah mengasah hasrat pengembaraannya yang tidak kenal lelah dengan mengunjungi kawah-kawah gunung berapi yang masih aktif, suatu tempat dimana sifat bumi, matahari dan bintang menunjukkan jati dirinya. Dan sayap platina sang peri kecil memiliki sifat serupa, yaitu liquid dan fleksibel serta dinamis. Bekal lebih dari cukup untuk beradaptasi.

Diatas awan gemawan, dia bisa terbang layaknya angsa Kanada, di palung laut paling dalam dia bisa berenang bersama gurita, Putri Duyung dan Neptunus.  Bahkan untuk pengembaraan lintas dimensi dia bisa melesat jauh melebihi kecepatan cahaya. Mengunjungi masa lampau maupun menerawang ke masa yang akan datang adalah mainan sehari-hari yang sama sekali tidak menguras energi, justru sebaliknya menghimpun tenaga baru yang segar bugar.

Itulah dia peri kecilku. Bersih dari segala dosa, lamis dari segenap dusta. Menolak tangan berdarah, menepis jemari berdebu. Dialah tumpuan kasih sayangku. Bintang kejora di langit senjaku. Bulan purnama sidhi bagi malam-malamku yang kudus dan teramat sunyi. Pelipur lara saat dada terasa hampa. Sahabat setia saat menyimak detik demi detik berlalu. Selamat Datang di bumi yang dihuni makhluk melata wahai peri kecilku. Kunjunganmu adalah kehormatan tak terperi bagiku….

KM 9999.

Pada saat pengunjung blogku mencapai angka 9999, terbersit dalam sanubariku untuk memberikan salam hormat yang setinggi-tingginya kepada beliau-beliau yang telah berkenan singgah dipesanggrahanku yang bersahaja ini. Rasa bahagia, senang, terharu berkecamuk dikalbu, campur aduk, lebur luluh jadi satu. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, betapapun juga, siapapun yang bertandang kerumahku adalah tamuku. Dan bagiku, tamuku adalah sahabatku, bahkan saudaraku. Sudah menjadi komitmenku untuk menghargai, menyayangi dan mencintai mereka tanpa pandang bulu. Mereka telah menjadi bagian dari desah nafas dan debar jantungku, merangkum jaringan maya yang pada gilirannya memberikan sumbangsih bagi keagungan alam semesta dan kesejahteraan umat manusia pada khususnya dan makhluk hidup pada umumnya.

Pada KM 9999 ini, aku berhenti pada satu titik bernama sepi. Menoleh kebelakang sejenak, mengenang bagaimana awal mula blog ini dibangun. Bermula dari hasrat ingin tahu seorang kakek jadul dan gaptek yang tidak kenal dan tidak tahu menahu tentang teknologi informasi, khususnya internet. Istilah blog terkesan aneh dan asing bagi benakku. Setelah anakku yang meraih gelar master IT di Universitas Wollonggong Australia memberikan penjelasan ala kadarnya ( sebatas kapasitas otakku untuk memahami), rasa percaya diriku mulai bertunas, hasrat ingin tahuku semakin menggebu. Harapanku untuk melepaskan diri dari stigma insan ketinggalan jaman memperoleh angin segar. Aku merasa sebagai King Cobra yang siap berganti kulit. Suatu saat, tidak lama lagi aku bermetamorfosa dari seorang kakek kuper menjelma grand papa yang gaul, pokoknya metal habiz!

Membayangkan saat-saat memilukan ketika aku terbata-bata dalam bimbingan anak untuk belajar bagaimana cara membuka internet, lalu merengek-rengek agar dibuatkan website, sungguh lucu campur malu dan haru atas semua kegobloganku. Harga diriku terbenam dalam ketertinggalan yang menjengkelkan. Benar-benar stres berat. Tapi apa boleh buat, tekatku sudah bulat, rawe-rawe rantas, malang-malang putung, beradaptasi atau tertatih-tatih digilas roda zaman.

Pada KM 10000,  sang kakek jadul sudah cukup akrab dengan layar monitor, dan jari jemari keriputnya tidak gemetaran menari diatas keyboard. Temannya di Facebook 400 an, followernya di twitter 6ooan, pengunjung di kedua blognya 15000 an. Walaupun ini dianggap prestasi kelas teri, tidaklah aku berkecil hati. Sebab dalam usia diatas 60, aku sedang tidak dalam posisi mengejar prestasi lagi. Aku sedang dalam proses cooling down yang smoot, landai, balance dan stabil. Ternyata teknologi informasi memberikan dukungan hampir-hampir tanpa batas pada perjuangan hidupku, baik dalam menunaikan tugas kewajiban maupun menegakkan kebenaran yang kuyakini. Kepada semua saudaraku yang telah meluangkan waktu berharganya untuk menyimak postinganku, izinkanlah aku menghaturkan penghargaan yang sebesar-besarnya, semoga jalinan persahabatan dan persaudaraan kita semakin solid dimasa depan. Di KM 9999 ini telak dipasang rambu jalan kehidupan berlambang daun waru: I LOVE U bahasa gaulnya.rambu-cinta1

PERMATA KATA

blue-harbour

luruh airmata membeku lalu menjelma kristal permata kata pelipur duka cita bagi mereka yang terlunta-lunta dan nista

adakah kita bisa membaca ketika cuaca ceria berubah menjadi gelap gulita? Tidak ada nyala pelita, tidak ada cahaya bulan purnama jelita

sementara sukma resah gelisah meronta-ronta mendamba cinta, kalbupun rindu hendak menggapai cita

malam-malam kelam begitu saja lewat tanpa senandung gita, karena kematian mulai menabuh genta

pewaris-pewaris derita berkerumun bermandikan embun seusai pesta, permadani merahpun dikotori guntingan pita

langkahku terbata-bata lantaran lantai tidak lagi rata seiring tubuh yang mulai renta dan sirnanya gema seuntai soneta

permata katapun lebur jadi debu tajam menyayat mata, bergumpal di jari kaki primata dan semua yang melata